04 Februari, 2010

Riset Geografi: Hikmah Pemindahan Kiblat Umat Islam dari Baitul Maqdis ke Kabah

Kiblat pertama Muslimin awalnya menuju ke arah Baitul Maqdis di Palestina (sebelah utara kota Mekkah). Akan tetapi, karena orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai bahan ejekan; dan selalu berkata :” Kalian Muslimin tidak memiliki agama yang tetap, oleh sebab itu kalian berdiri menghadap kiblat kami”.
Allah SWT Maha Mengetahui, sehingga tidak sekedar ejekan Yahudi, hikmah yang bisa kita petik dari pemindahan arah kiblat ini, namun juga secara geografis, andai kiblat tetap di Majidil Aqsha di Palestina; saat ini kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.

Masjidil Aqsha berada di lokasi dengan koordinat LU sebesar 31°46′ 40.93″. Garis ini jelas tidak dilalui matahari saat MIHADAA, sebab paling pol (mentok) matahari akan melewati pada garis Lintang Utara tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU. Jadi mustahil kita menentukan arah kiblat dengan melihat bayangan matahari.

Ka’bah di Masjidil Haram kota Mekkah, berada di garis koordinat 21°25′20.94″ Lintang Utara. Garis ini di bawah 23.5° LU batas matahari melakukan Mihaadaa-nya.

Maka dengan perintah Allah SWT kiblat tersebut diubah dari Baitul Maqdis ke Mekah. Setelah itu, orang-orang Yahudi mengajukan kritikan lain, yaitu bahwa jika kiblat yang pertama benar, maka kenapa kalian mengubahnya; dan jika kiblat kedua yang benar, maka salat kalian selama mengghadap kiblat pertama, adalah sia-sia.

Sebagian orang memang masih menganggap arah kiblat secara kurang serius. Kalau menghadap kiblat (titik ka’bah) dianggap sepele, maka mengapa kiblat semula ke masjidil aqsha dipindah ke masjidil haram? di sana ada hikmah sehingga kita bisa menentukan arah kiblat dengan mudah cukup melihat bayangan matahari. Dan saya yakin hikmah lainnya pasti ada. Dan dasarnya pun amat jelas dan kuat kalau ka’bah itu pusat dan ’sasaran’ pandangan ummat islam ini.

Firman Allah SWT dalam QS.5 (Al-Maidah):97 yang artinya:
“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia”.

Karena pusat, maka menurut Agus Musthofa dalam bukunya “Pusaran Energi Ka’bah”, ka’bah akan memiliki power yang amat besar sebagai akibat dijadikannya ka’bah ini kiblat umat islam, dalam sholat, dan amal ibadah lainnya.

Kita sholat selalu mengikuti gerak matahari. Misal di Yogya saya sholat dhuhur, maka selang beberapa jam di wilayah barat juga akan sholat dhuhur, dan saat itu saya sudah masuk sholat ashar, dan begitu seterusnya, karena matahari bergerak ke barat.

Bila semua ummat islam dalam sholat, dalam dzikir, dalam menguburkan jenazah dan amalan2 lainnya; maka praktis semua energi akan mengarah ke barat ke titik yang sama yakni ka’bah. Kata Pak Agus Musthofa ini akan mengakibatkan perpedaan potensial energi yang amat tinggi antara Ka’bah dan tempat2 di bumi yang dihuni ummat islam. Dan bisa dibayangkan betapa besarnya energi yang terpancar dai Ka’bah akibat berbagai aktifitas di tadi.

Tentang arah kiblat ada yang pernah berkata, ‘Walau menghadap ke timur, khan nanti juga kembalinya ke ka’bah juga.’ Pendapat ini jelas tidak faham posisi dan koordinat tempat di permukaan bumi. Beralasan asal menghadap cukup, saya pikir ini salah besar. Ibarat tali yang diikatkan ke globe bumi, bila salah satu bagian tali mengenai koordinat ka’bah, pasti dimanapun posisi orang asal searah (dan mengambil jarak terdekat) pasti arahnya tepat.

Sebaliknya kalau sebagian tali tidak menyentuh koordinat ka’bah, ya…mustahil arahnya akan menuju ka’bah meski berjarak pandang ke ka’bah, apalagi berbeda negara berbeda benua dst.

Pak Ma’rufin – DP JAC, menjabarkan salah satu hikmah yang bisa diambil dari seputar kiblat dan pemindahannya dari al-Aqsa ke Ka’bah; Salah satunya misalnya dari sudut pandang geologi. Kota Makkah dan hampir keseluruhan Tanah Hijaz itu berdiri di atas bagian kerak Bumi yang sudah sangat tua dan stabil, dan dikenal sebagai Arabian-Nubian Shield. Disini sangat jarang terjadi gempa. Beda dengan Jerusalem, yang berdiri di atas lintasan patahan besar Laut Mati, yang membentang dari Teluk Aqaba di barat daya hingga Pegunungan Taurus dan Van di Turki. Patahan besar ini masih aktif dan berulang kali menjadi generator gempa merusak sepanjang sejarahnya.

Salah satu gempa yang fenomenal (dan kontroversial) terjadi sekitar 2150 BCE ketika segmen barat daya Laut Mati terpatahkan dan terdeformasi sehingga digenangi air Laut Mati. Gempa ini konon disertai letusan paroksimal (besar-besaran) gunung api yang bekas-bekasnya masih bisa dijumpai di dekat Bashan (Yordania) dan kemungkinan menghasilkan proses tektono-vulkanik. Kombinasi gempa dan letusan ini yang disebut-sebut menghancurkan kota Sodom, Gomorrah dan 5 pusat pemukiman lainnya yang menjadi hunian umat Nabi Luth AS. Apakah al-Aqsa bisa terkena gempa di masa mendatang? Kemungkinan itu sangat terbuka.

Bener, patahan besar Laut Mati sendiri akhirnya berlanjut ke Laut Merah yang berada di tengah Arabian-Nubian Shield, membentuk Great Rift Valley, lembah terpanjang di Bumi (4.000-an km) yang membentang dari kaki Pegunungan Taurus hingga ke Danau Tanganyika di tengah Afrika. Namun patahan Laut Merah ini bersifat divergen dan tengah berproses menjadi mid oceanic ridge.
Divergensi ini telah ‘memekarkan’ Laut Merah secara perlahan selama 25 juta tahun terakhir hingga Laut Merah kerap disebut ‘embrio samudra’, sama seperti Selat Makassar di Indonesia, hanya saja di Selat Makassar aktivitas pembukaannya sudah terhenti.

Pada patahan divergen ini aktivitas kegempaan tetap ada, namun lebih lemah dibandingkan patahan transformasi maupun zona subduksi. Dan patahan divergen ini juga tidak melintas langsung di Makkah, sehingga peluang Ka’bah terkena guncangan yang merusak dari gempa (yang misalnya) diproduksi oleh patahan divergen ini cukup kecil.

Memang, kelak ketika aktivitas pemekaran Laut Merah terus berlanjut, benturan mikrolempeng-mikrolempeng dasar Laut Merah vs Arabian Shield akan menghasilkan subduksi, dimana continental slope Arabian Shield akan terpatahkan ke atas (thrust) sementara mikrolempeng tadi bergerak menunjam ke asthenosfer. Subduksi ini biasanya akan terbentuk dalam rentang jarak yang sangat besar sehingga kerap disebut megathrust. Kapan waktunya? Masih lama. Berkaca pada inisiasi subduksi lempeng India vs mikrolempeng Burma di segmen Simeulue, dibutuhkan waktu 50 juta tahun dari saat kedua lempeng mulai berinteraksi hingga subduksi terjadi, yang baru terdeteksi ketika terjadi gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam. Jadi, subduksi laut Merah mungkin baru terjadi sekitar 25 juta tahun mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar